kampus

Digging for Data

16939446_10212607455320719_3446993641755212661_n
Peserta Workshop Digging for Data

Tulisan ini menceritakan pengalaman saya mengikuti sebuah workshop di Program studi Teknik Arsitektur – Intitut Teknologi Bandung. Kegiatannya sebenarnya sudah beberapa bulan yang lalu, tetapi saya baru sempat menuliskan sekarang. Ini pun karena saya ikut #RandomNulis2017 Challenge. Sebuah komunitas yang mengajak menulis tiap hari selama bulan Juni 2017 ini. Tidak ada persyaratan dan tidak ada hadiah, sih. Rencananya saya ikut challenge ini sambil mengisi blog-blog yang saya buat.

Workshop Digging for Data adalah sebuah kegiatan yang mengajak masyarakat atau komunitas untuk peduli terhadap pelestarian bangunan-bangunan bersejarah.
Bangunan bersejarah dalam hal apa?
Memang ada dua pengertian di Indonesia tentang bangunan bersejarah. Pertama, peristiwa bersejarah yang pernah terjadi di gedung tersebut. Umumnya dikaitkan dengan sejarah perjuangan atau sejarah kemerdekaan Indonesia. Sedangkan yang kedua, bangunan tersebut menampilkan style/gaya bangunan tertentu menurut sejarah perkembangan Arsitektur. Atau arsiteknya berkarya di zaman tertentu, misalnya era kolonial di Indonesia.

Workshop rencananya diadakan selama dua hari, diarahkan oleh Huib Akihary. Pak Aki, kami kemudian memanggilnya seperti itu, seorang keturunan Belanda-Maluku, salah seorang penulis buku berjudul sama, Digging for Data, diterbitkan tahun 2016.
Buku tersebut merupakan panduan, bagaimana kita mengamati sebuah bangunan lama, dan mencari tahu informasi di baliknya. Misalnya: kapan dibangun, siapa arsiteknya, siapa penghuninya, gaya arsitektur, dan lain-lain.

Hari Pertama

Pengarahan dari panitia, seluruh peserta akan dibagi menjadi kelompok sesuai dengan bangunan lama yang akan diteliti. Bangunan lama yang dipilih oleh panitia termasuk dalam bangunan yang usianya lebih dari 50 tahun, diduga memiliki kriteria bersejarah dan perlu dikonservasi.

Dalam daftar ada 8 bangunan lama, yaitu:
1. Gedung PT Dana Reksa Sekuritas, jl. Gatot Subroto no. 1
2. Restoran Indische Tafel, jl. Sumatera no. 19
3. Polrestabes Bandung, jl. Merdeka no. 16-18-20
4. Gedung Indonesia Menggugat, jl. Perintis Kemerdekaan no. 5
5. Galeri Kita, jl. LLRE. Martadinata no. 209
6. Gedung Paguyuban Pasundan, jl. Sumatera no. 41
7. Kafe Dakken, jl. LLRE. Martadinata no. 67
8. Hotel Bumi Sawunggaling, jl. Sawuunggaling no. 13

Melihat tingkat kesulitan dan untuk memudahkan, hanya 4 bangunan yang dipilih untuk studi kasus, yaitu: Restoran Indische Tafel, Gedung Indonesia Menggugat, Kafe Dakken, dan Hotel Bumi Sawunggaling.
Kelihatannya bangunan yang lain, melihat fungsinya, membutuhkan surat ijin.

Para peserta yang berjumlah kira-kira 20-an dibekali tabel dan daftar pertanyaan, apa saja yang perlu kita catat bila meneliti suatu obyek. Tentunya disertai dengan foto-foto dari berbagai sudut.
Kira-kira begini tabelnya:

My Research question was:
 Fill in your Ws indicating to sources or collectionsChecking most relevant sources:  What
WhatSources related to object / building (example: office company) >> …>> …>> archive company  >> archive organization/institute  >> image databases  >> www.delpher.nl  >> online search engines / websites
WhereSources related to location >> …>> …>> maps  >> image datababes  >> online search engines / websites
WhenSources related to year of design, building, completion, history  >> …>> maps >> image datebases >> www.delpher.nl  >> online search engines / websites
WhoSources related to the persons involved  Architect >> …  Builder >> …  Commissioner >> …  Others >> …>> archives persons involved  >> archive architect or bureau  >> reference books on architecture  >> www.delpher.nl  >> online search engines / websites
WhySources related to the occasion  >> …>>>> …>> www.delpher.nl  >> online search engines / websites

Selain dibekali dengan tabel research question, pak Aki juga memberikan daftar link-link sumber data yang bisa kami unduh dari internet.

Seperti kita tahu, Belanda dalam sejarah terlibat dalam pemerintahan di Indonesia cukup lama. Beberapa kota di Indonesia didesain perencanaan kotanya oleh Belanda, salah satunya Bandung. Ternyata arsip administrasi pemerintah kolonial Belanda di Indonesia sangat rapi tercatat. Kita bahkan bisa mendapatkan nama-nama pegawai yang bekerja di kantor Gemeente (sistem pemerintahan kolonial) dalam kurun waktu tertentu.

Selain itu perencanaan suatu kota harus didukung oleh pemetaan yang mumpuni. Peta lama kota Bandung ternyata sudah dibuat sejak awal 1900-an. Peta tersebut bisa kita lihat di sini.
Dari peta yang ada, kita bisa mengetahui bentuk dasar sebuah bangunan, dan dari sinilah penelitian dimulai. Menyocokan posisi bangunan sekarang ke peta lama, menganalisisnya, dan menyimpulkan.

Kami diberi waktu kira-kira 3 jam untuk survei ke bangunan-bangunan yang diduga memiliki karakter style atau gaya bangunan tertentu. Kemudian sore hari, kami kembali ke kampus dan memaparkan hasil survei ke pak Aki.
Salah satu arahan dari pa Aki adalah, kami diminta mencari berbagai foto bangunan lama yang disurvei dari berbagai sumber. Salah satu sumber mumpuni foto-foto bangunan lama bisa dilihat dari perpustakaan Universitas Leiden. Tentu saja pelaksanaan workshop harus didukung dengan jaringan internet yang mumpuni, karena memang sumber data sebagian besar dicari dari internet.

Hari Kedua

Hari kedua, semua kelompok diminta menggali lebih dalam sumber-sumber data, misalnya peta lama, foto bangunan lama, daftar pegawai Belanda yang bekerja di Indonesia, daftar perusahaan, daftar konsultan, daftar pemborong, nama arsitek-arsitek Belanda, bahkan iklan koran lokal berbahasa Belanda yang terbit waktu itu.
Foto-foto bangunan lama yang kami survei kemarin, kami analisis sesuai dengan research question dalam tabel.
Menarik, sih, workshopnya, kami jadi seperti detektif. Kami seolah masuk ke lorong waktu, mencoba membayangkan apa yang terjadi pada waktu pemerintah Hindia Belanda menguasai Indonesia.
Dari artefak yang ada bisa diketahui, asal bangunan dulunya berfungsi sebagai apa.

Misalnya, Restoran Indische Tafel, ternyata sudah mengalami renovasi dari bangunan awalnya, dari rumah tinggal menjadi restoran. Bila ditilik dari gaya arsitektur yang berkembang zaman itu, dulunya tidak mewakili gaya arsitektur tertentu. Apa yang tampak sekarang, hanyalah tiruan bangunan lama.

IMG_20170224_125022
Restoran Indische Tefel

Gedung Indonesia Menggugat, dulunya adalah Landraad, atau Pengadilan. Sekarang merupakan bangunan yang dilestarikan dan sering dipakai sebagai gedung pameran atau seminar.

20170220_091142786_iOS
Gedung Indonesia Menggugat

Kafe Dakken, dulunya adalah rumah tinggal.

20170220_091349723_iOS
Kafe Dakken

Sedangkan Hotel Sawunggaling, juga dulunya adalah rumah tinggal. Menariknya dari hotel Sawunggaling, grup yang melakukan penelitian bisa mengetahui nama pemilik dan umur bangunan. Nama pemilik diketahui dari plakat atau pahatan batu nama pemiliknya.
Penelusuran ke koran lokal berbahasa Belanda ditemukan nama yang sama, berkat iklan pernikahan si Pemilik rumah.
Menarik bukan?

20170220_100825968_iOS
Hotel Bumi Sawunggaling

Format Digging for Data ternyata bisa diterapkan untuk meneliti bangunan lama dan bersejarah di kota-kota lain juga. Sebelum Bandung, workshop telah diadakan di Semarang. Sedangkan sesudah Bandung, pak Aki langsung menuju Medan, mengadakan workshop yang sama.

Hanya, sayangnya, format tersebut memang seringnya hanya bisa diterapkan pada bangunan-bangunan lama yang dirancang atau dibangunan di era Kolonial.
Agak sulit menggali data dari bangunan-bangunan tradisional. Bangunan-bangunan tradisional di Indonesia sebagian besar dari kayu dan telah lapuk. Selain itu kurang ada foto-foto bangunan lama tradisional yang bisa dipakai sebagai pisau analisis.

III Casestudies Workshop def 161213

Sumber:

Atlas of Mutual Heritage, Amsterdam • Dokumen VOC dan WIC: http://www.atlasofmutualheritage.nl/en/

Koleksi Kolonial (KIT) (peta, dokumen teks) dari Koleksi Heritage bekas perpustakaan Lembaga Kerajaan untuk Kawasan Tropis (Koninklijk Instituut voor de Tropen, KIT): http://www.bibliotheek.leidenuniv.nl/catalogi_dat abases/

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *