Masjid Agung Al Hidayah, Malang, Pesona Replika Hagia Sophia

Pada suatu kesempatan di Malang, kami mempertimbangkan untuk memperpanjang waktu menginap di sana, karena ingin explore tempat-tempat di sekitar kota ini.
Sudah biasa bagi saya, bila berkunjung ke suatu kota, mencari masjid unik-heritage-kuno setempat. Kemudian saya analisis, mencari latarbelakang sejarah, atau sekadar mengagumi desain atau bentuknya.
Nah, ketika googling, muncullah kata kunci “replika Hagia Sophia”. Penasaran kan, seperti apa tiruan masjid yang terkenal di belahan bumi nun jauh di Turki.

Mengenal Hagia Sophia

Di artikel saya sebelumnya tentang Keunikan Hagia Sophia, memang tak terbantahkan dan bisa ditelusuri dari artefaknya yang berdiri tegak walau usianya sudah ribuan tahun.

Berbagai penelitian mulai dari sejarah, arsitektur, struktur hingga matematis silih berganti mengangkat bangunan megah ini. Hagia Sophia menjadi milik dunia, apalagi setelah ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia oleh UNESCO di tahun 1985.

Setelah lebih dari 80 tahun Hagia Sophia dengan kemegahannya sebagai bangunan museum di kota Istanbul, Turki, maka sejak pertengahan Juli 2020 kembali berfungsi menjadi masjid.

Hagia Sophia yang pertama dibangun pada masa kaisar Constantin di era Kekaisaran Romawi Timur, pada tahun 360. Waktu itu Kekaisaran Romawi melebarkan kekuasaannya dari Inggris hingga ke Asia Tengah menyeberang Selat Bosphorus. Kawasan Romawi Timur ini dikenal dengan nama Bizantium dengan ibukotanya Constantinople (Konstantinopel), mengambil nama dari ayah Constantin, Constantin I, kaisar pertama. Dikemudian hari, Constantinople berganti nama menjadi Istanbul, yang kita kenal sekarang.

Hagia Sophia awalnya didesain sebagai gereja dengan bentuk basilika dan berstruktur atap dari kayu. Kemudian di tahun 404 strukturnya terbakar habis akibat kerusuhan saat pecah konflik politik. Hagia Sophia yang kedua dibangun kembali dengan penambahan ruang-ruang nave. Tak sampai satu abad, gereja Orthodoks Yunani ini kembali dibakar akibat kerusuhan.

Karena kesulitan membangun kembali, Hagia Sophia dihancurkan dan didesain ulang sama sekali baru. Jadi, desain yang ada hingga sekarang adalah Hagia Sophia yang ketiga, yang selesai dibangun tahun 537.

Dari segi arsitektur, Hagia Sophia merupakan kombinasi dari elemen tradisional basilika Orthodoks dengan kubah besar, setengah kubah di atas altar dan dua narthex. Kubah-kubahnya didukung oleh busur-busur yang dilapisi dengan mosaik, suatu seni melapis dinding dengan potongan keramik kecil-kecil.
Untuk mendukung kreasi sebuah basilika megah, Kaisar Justinian, memerintahkan semua perwakilan dari provinsi di wilayahnya untuk menyumbang elemen arsitektur dan dipasang di Hagia Sophia.

sumber: https://www.propertyturkey.com/blog-turkey/sacred-architecture-the-blue-mosque-and-hagia-sophia-of-istanbul

Beginilah alih fungsi berulang kali pada Hagia Sophia:

  • 537-1204 : Gereja Katedral Orthodoks Yunani
  • 1204 – 1261 : Gereja Katedral Katolik Roma
  • 1261 – 1453 : Gereja Katedral Orthodoks Yunani
  • 1453 – 1935 : Masjid Ottoman
  • 1935 – 2020 : Museum
  • 2020 – hingga sekarang : Masjid

Penamaan Hagia Sophia menurut catatan sejarah diambil dari Sancta Sophia atau Sancta Sapientia yang artinya Kebijaksanaan Suci. Nama lengkapnya dalam bahasa Yunani adalah Ναὸς τῆς Ἁγίας τοῦ Θεοῦ Σοφίας, Naos tēs Hagias tou Theou Sophias, “Tempat Peziarahan Kebijaksaan Suci Tuhan.

Berkunjung ke Masjid Agung Al Hidayah, Malang

di seberang masjid

Tertarik dengan kata kunci replika Hagia Sophia untuk menandai sebuah masjid di Malang, saya pun mencarinya di google map.
Masjid ini bernama Masjid Agung Al Hidayah, terletak di Dusun Donowarih, Desa Karangan, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang, Jawa Timur, terletak di tepi jalan besar yang kami lalui ketika menuju kota Kediri.

Mencari informasi dari internet, ada informasi dari Sekretaris Masjid Agung Al Hidayah, Anas Firdaus, bahwa sumber dana pembangunan masjid terkumpul dari partisipasi masyarakat. Dan selama proses pembangunan memakan waktu hampir 10 tahun. Sementara luas area masjid adalah 20 x 30 meter.

Masjid Al-Hidayah sendiri didirikan oleh Romo KH Ismail di masa sebelum kemerdekaan dan saat ini merupakan renovasi keempat kalinya. Bangunan diperbesar seiring semakin banyaknya jumlah warga muslim di sekitar lokasi masjid.

Pembangunan masjid hingga seperti sekarang ini menghabiskan biaya sampai Rp 8,5 miliar.

Waktu itu menjelang pukul delapan, dari kejauhan masjid ini memang tampak megah diterpa semburat matahari pagi.
Kami pun meminta driver mobil yang kami rental untuk memarkir kendaraan di halaman Indomaret di seberang masjid. Driver tadinya keberatan dan mengarahkan mobil tepat di depan masjid. Menurutnya kalau turun di seberang akan sulit untuk menyeberang jalan dengan lalu lintas padat dan rata-rata kecepatan agak tinggi.

Tapi lebih layak dan sopan ya parkir di halaman Indomaret, supaya tidak mengganggu lalu lintas ditambah saya mau memotret masjid dari seberang jalan.
Agak sulit sebetulnya mengambil sudut gambar yang tepat, karena masjid terlalu besar, tidak ada halaman depan masjid, karena masjid betul-betul mepet jalan.
Dari segi tata letak dan ketentuan tata kota, boleh dibilang ini melanggar peraturan. Harusnya ada sempadan bangunan, yaitu peraturan garis muka bangunan sekian meter mundur dari tepi jalan.

Beberapa kali bergeser, saya tidak berhasil mendapatkan foto bangunan lengkap dengan menaranya yang konon setinggi 45 meter, karena terlalu dekat, sedangkan di seberang jalan sudah ada bangunan lain.
Warna cokelat keemasan mendominasi pada masjid ini sehingga arsitektur khas Hagia Sophia sangat terasa. Untuk ornamen di interiornya masjid ini tidak kalah menarik. Pilar-pilar penyangga khas Hagia Sophia berdiri kokoh dan menempel di dinding serta atap masjid.

Kami menyeberang, mencari pintu masuk. Pintu utama ada di tengah bangunan yang dicapai melalui tangga dari kanan dan kiri bangunan.
Bisa juga masuk dari tangga belakang setelah melalui ruang wudhu.

pintu masuk dan area wudhu

anak-anak mengaji

tabir pembatas dan ukiran pada kolom

Ketika saya tiba di lantai dasar, bersamaan dengan anak-anak usia SD berlarian untuk bersiap-siap membentuk kelompok-kelompok. Di ruang utama di atas karpet terlihat beberapa murobi dikelilingi oleh sekitar 6-8 anak, mengulang bacaan ayat-ayat Al Quran.

Di dalam suasana tampak asri, walaupun ruangan tinggi dan megah tetapi terasa hangat. Mungkin karena seluruh ruangan hampir semuanya dipakai anak-anak belajar mengaji.

Secara sepintas interior mirip dengan Masjid Hagia Sophia yang tentu saja bila diamati lebih detail akan terlihat perbedaannya.

interior al hidayah

interior atap kubah al hidayah

pemandangan dari mezzanine (lantai 2)

Saya pun naik ke lantai dua, lantai mezzanine, umumnya digunakan untuk shalat akhwat di Hari Raya. Mengambil foto dari lantai dua terlihat lebih leluasa, terutama bagian kubah dan mihrab.

ruangan lantai 2

Sayangnya saya tidak mendapatkan informasi tentang arsitek atau pihak yang mengetahui detail pembangunan masjid ini.
Sepintas masjid ini dibangun cukup apik dan detail, terlihat kokoh dengan kolom-kolom struktur besar, dinding granit diukir rapi dan menggunakan kaca patri walaupun ornamennya sederhana. Ornamen berupa ukiran dan barisan ayat-ayat suci Al Quran pun diterapkan hampir di pinggiran plafond dan pelapis balok-balok struktur.

kaca patri dan ukiran pada dinding granit

Setelah puas melihat-lihat di dalam masjid, membidik beberapa foto, kami pun turun dan menyeberang kembali. Di seberang masjid rupanya terdapat kompleks pesantren bernama “Bumi Pesantren Al Hidayah“, masih satu payung dengan masjid. Tampak anak-anak kira-kira usia remaja rapi berbaris.

Menurut Kang parkir di Indomaret, di belakang masjid ada makam Kyai pendiri pesantran dan penggagas Masjid Agung Al Hidayah. Sayangnya kami tak cukup waktu untuk ziarah ke makam dan mungkin saja mendapatkan kisah lebih detail tentang berdirinya masjid ini.

bumi pesantren al hidayah

bumi pesantren al hidayah

Penutup

Berkunjung ke suatu kota atau objek wisata saya sering menjumpai objek-objek replika dari belahan bumi lain yang terkenal. Misalnya Menara Eiffel dari Paris, Gapura Ars de Triomphe juga dari Paris, Menara Pizza dari Italia, Masjid Nabawai dari Madinah, dan lain-lain.

Kritikan selalu ada tentang sikap tiru-meniru seperti ini, seolah pihak yang meniru tidak punya ide sama sekali.
Informasi yang saya peroleh dari internet, Masjid Agung Al Hidayah ini dibangun tanpa arsitek, hanya mengandalkan foto-foto Hagia Sophia, kemudian dibuat tiruannya.
Apapun ide masjid, mau hasil pemikiran sendiri maupun tiruan, yang saya rasakan ketika menyambangi sebentar, Al Hidayah hangat dengan adanya anak-anak yang fokus mengaji.

5 pemikiran pada “Masjid Agung Al Hidayah, Malang, Pesona Replika Hagia Sophia”

  1. Baca di akhir cerita, kaget saya saat tahu Masjid Agung Al Hidayah dibangun tanpa arsitek, hanya mengandalkan foto-foto Hagia Sophia, kemudian dibuat tiruannya. Wah, salut akan idenya.. Cantik sekali masjidnya!
    Apapun itu, di luar menjadi tempat ibadah, masjid ini bisa jadi tujuan mengeksplorasi keunikan arsitektural atau mencari kedamaian spiritual.

    Balas
  2. setuju Mbak Hani, gak ada salahnya membangun suatu gedung dengan “mencontek” gedung lain
    seperti Masjid Agung Al-Hidayah yang terinspirasi Hagia Sophia, selam itu untuk kepentingan publik

    Eniwei jadi inget selama di Jogja saya belum sempat hunting masjid seperti ke Masjid Jogokariyan yang terkenal itu, maklum di sini fokus berobat dulu

    Entar deh kalo body udah enakan, saya mulai jalan-jalan dari masjid ke masjid ^^

    Balas
  3. Walau di bangun tanpa arsitek dan hanya mengandalkan foto-foto untuk di tiru, namun ternyata, dari pengamatan mbak Hani, memang ada kemiripan ya antara masjid Al Hidayah ini dengan Hagia Shopia.

    Masjid ini kayaknya nggak terlalu jauh dari rumah, jadi pengen kesana deh kapan-kapan

    Balas
  4. Duh, suasananya menyenangkan ya di masjid ini. Emang adem tiap lihat anak-anak ngaji, trus ada ruang yang megah berupa tempat ibadah. Soal tiru-meniru itu menurutku juga nggak relevan ketika masjidnya benar-benar dipakai, dirawat, dan dihidupi ya mbak. Ini lebih ke soal fungsinya sebagai ruang ibadah dan belajar.

    Balas

Tinggalkan komentar