buku

Beda Buku dan Disertasi

Sebagai dosen di Perguruan Tinggi jenjang kepangkatan dan kompetensi ditentukan dari seberapa banyak angka kredit yang dikumpulkan.
Itu sebabnya semua aktifitas disetarakan dengan angka tersebut.
Ada Peraturan Pemerintah, buku panduan khusus dan tabel-tabel untuk mengetahui berapa angka dari setiap kegiatan yang telah dilaksanakan.
Ijazah, Surat Keputusan (SK), surat tugas, sertifikat, hasil karya, hasil penelitian, dan penulisan karya ilmiah, semua ada nilainya.
Pada tabel buku panduan, angka tertinggi adalah penulisan jurnal internasional, membuat karya dan menulis buku.
Ternyata, walaupun dalam keseharian sebagai dosen, harus menyiapkan materi kuliah, serta menulis jurnal, menulis buku yang diterbitkan untuk umum merupakan hal yang berbeda.
Dimana bedanya?

1 – Tujuan Menulis Buku

Apa tujuannya menulis buku?
Buku ditulis karena ada keinginan dari penulisnya untuk menyampaikan secara luas buah pikirannya. Berbeda dengan jurnal, bahkan disertasi, yang sepenuhnya demi kepentingan akademis atau pengembangan ilmu.

2 – Audiens

Audiens buku, bisa dipilah buku apa yang akan kita tulis. Apakah buku ajar atau buku umum. Audiens buku ajar, lingkupnya bisa siswa, mahasiswa dan lingkungan kampus. Buku ajar ada juga yang dijual untuk umum. Audiens buku umum adalah ribuan orang yang tak dikenal. Tidak mudah bahkan mengetahui selera audiens ini. Kapan buku motivasi laris, dan kapan buku parenting laris.
Sedangkan audiens disertasi adalah komite penguji atau kelak adalah peneliti lain yang melakukan penelitian setara dan mensitasi disertasi peneliti sebelumnya.

3 – Anatomi Buku

Bentuk fisik atau anatomi buku populer atau buku untuk anak SMA atau setingkat dengannya, tidak terlalu tebal. Sesuai dengan persyaratan dari penerbit, biasanya antara 60 hingga 120 halaman kertas A4, diketik 1.5 spasi. Buku umum disertai pula dengan cover menarik, gambar atau foto yang mendukung.
Sedangkan disertasi, panjang penelitian tidak dibatasi, tergantung hasil penelitiannya. Begitu pula dengan cover buku, biasanya standar kampus masing-masing.

4 – Gaya Penulisan

Gaya menulis di buku tidak terlalu bergantung kepada kutipan. Kutipan, bisa berupa quote atau kata-kata bijak yang menambah bumbu pada buku. Bahkan pendapat pengarang bisa dengan bebas dituliskan dalam buku.
Sedangkan disertasi bergantung pada kutipan pernyataan, sitasi, dan harus dicantumkan khusus sumber-sumbernya. Penulis disertasi tidak bisa dengan bebas menyatakan pendapatnya.

Pada beberapa bincang dan diskusi, dosen yang tak biasa menulis buku umum, terasa berat merangkai kalimat. Karena terbiasa menulis paragraf yang merupakan sitasi penelitian sebelumnya.

5 – Struktur Buku

Struktur buku non fiksi, apalagi buku fiksi atau novel, menunjukkan pemikiran menembus batas.
Contoh-contohnya pun terpilih.
Sedangkan disertasi, struktur penulisannya harus menunjukkan metode penelitian, kemampuan analisis dan contoh-contohnya diulang disertai dengan bukti kuantitatif maupun kualitatif.

6 – Pembaban

Jumlah bab dan panjang bab disesuaikan dengan keterbacaan. Bahkan mungkin saja bukan berupa nomor-nomor sub bab, tetapi lebih bebas. Bisa saja antar sub bab tidak harus runut, tetapi hanya berdasarkan pengelompokkan dengan tema yang sama.
Disertasi, karena berupa hasil penulisan penelitian yang panjang dan berlandaskan berbagai teori, maka bab-babnya bisa saja lebih sedikit tetapi lebih panjang isinya.

Membukukan Disertasi

Bila syarat untuk menjadi sarjana harus menyusun skripsi atau tugas akhis, sedangkan S2 atau magister harus menyusun thesis karya atau thesis penelitian. Maka S3, atau doktoral, harus menyelesaikan disertasi.
Sedangkan untuk menjadi guru besar atau profesor harus melalui jenjang doktoral ini terlebih dahulu.
Sejak diberlakukannya sertifikasi dosen tahun 2008, profesor di Indonesia harus menulis minimal satu buku per tahun. Sebagai konsekuensi mendapatkan tunjangan kehormatan sebagai guru besar tersebut.

Akhir-akhir ini dosen pun diarahkan untuk membukukan disertasinya, agar hasil penelitiannya lebih terpublikasi ke masyarakat. Oleh sebab itu memang perlu perlakuan khusus agar hasil tulisan yang dibuat dengan susah payah tersebut mudah dicerna. Buku yang terlalu “berat” isinya, besar kemungkinan tidak diminati oleh khalayak sehingga tidak laku.

Bagaimana dengan skripsi dan thesis? Keduanya pun bisa saja diparafrasa menjadi tulisan ilmiah populer. Akan lebih baik dipublikasikan ke masyarakat, daripada hanya menjadi pajangan rak perpustakaan kampus.

(*disarikan dari “From Dissertation to Book”, William Germano, 2005)

19 Komentar

  • Muhammad Rifqi Saifudin

    Banyak penelitian, mulai dari skripsi, thesis, hingga diserta yang kurasa menarik yang telah ditulis. Tapi sayangnya itu tadi, kebanyakan berisi sangat “berat” sehingga susah untuk diterima khalayak luas. Aku akan sangat mendukung apabila berbagai hasil penelitian itu bisa diparafrasa menjadi sebuah karya ilmiah dengan bahasa lebih mudah dicerna agar hasilnya pun bisa lebih terasa di masyarakat. Toh, untuk apa membuat penelitian dengan bahasa selangit kalau tidak bermanfaat?

  • Richa Miskiyya

    Suami saya beberapa kali nerima orderan untuk mengolah bahasa skripsi/tesis/desertasi orang lain buat dijadiin buku.
    Tapi kalo sekarang udah gak nerima lagi, udah sibuk penelitian sendiri dan nulis di jurnal sinta 2 buat naikin angka kredit 😅.

    • Lisa Moningka

      Iya, disayangkan kalau hasil-hasil penelitian dibukukan dengan bahasa yang sulit dicerna. Saya kadang-kadang mengambil bahan artikel dari sumber penelitian. Lebih jelas sumbernya.

  • Nomsaa

    Mempublikasikan tulisan ilmiah ke masyarakat memang jadi tantangan. Ngga cuma untuk S2 dan S3, S1 pun. Suka sedih lihat tumpukan skripsi di perpus kampus yg pada akhirnya cuma numpuk gitu aja.

  • Ngopi Santai

    betul juga, bisa dikatakan semua orang bisa menulis. namun banyak tujuannya dan keperluannya. sehingga untuk menulis secara spesifik juga harus tahu ilmunya…

    • Andayani Rhani

      Bener sekali kak, saya sebenarnya suka membaca tapi kalau disuruh membaca jurnal ataupun buku” penelitian saya terpaksa “loss” karena banyak bahasa yang terlalu berat bikin kepala pusing :”)

  • Mutia Ramadhani

    Benar mba, membumikan skripsi/thesis/disertasi itu PR cukup berat yaaa. Hehehe. Jika sudah dalam bentuk buku, rasanya lebih minat untuk dibaca, lebih menarik, dan lebih ringan aja rasanya. Kalo masih dalam bentuk bab bab baku dengan cover tebal ukuran A4, udah malas duluan kadang bacanya. Hehehe

  • arigetas.com

    Nah iya mbak, aku setuju apabila ada kumpulan skripsi yang se-tema, kemudian diparafrase menjadi bahasa yang lebih populer, sehingga bisa lebih berguna kepada masyarakat.

    Lah kan, aku malah jadi punya ide buat bikin buku dari riset2 jaman dulu sampe skr. Kemudian sadar, eksekusinya yang entah kapan.

    • Aini

      Meskipun terbiasa menulis blog, aku masih kurang paham terkait poin-poin penting dalam menulis disertasi. Mungkin karena aku belum kepikiran untuk lanjut kuliah haha. Tapi ternyata memang banyak aspek yang perlu diperhatikan ya

      • gemaulani

        Aih senengnya, akhirnya kumenemukan jawaban yang selama inu kupertanyakan tapi belum minat untuk mencari tahu lebih lanjut ehehe. Seriusan aku penasaran kalau S3 apa ternyata disertasi. Soalnya yang sering terdengar kan skripsi sama thesis. Baru tahu juga kalau sejak 2008 dosen yang bergelar doktoral harus menulis satu buku setiap tahunnya. Makasih infonya 🙂

        • Fadli Hafizulhaq

          Saya baru tahu kalau profesor wajib menulis buku 1 kali dalam setahun. Patutlah profesor saya ngebet mau nulis buku, padahal artikelnya sudah banyak terbit di jurnal internasional

          • hani

            Iya. Sekarang makin ketat peraturannya. Kalau engga, disuspend tunjangan guru besarnya. Tiap semester dipantau oleh Dikti. Hehe…

  • Nanik Nara

    Iya, sayang banget kalau hasil penelitian hanya berakhir di perpustakaan kampus. Jika gaya penulisannya diubah dan bisa diterbitkan dan didistribusikan secara luas, akan makin banyak masyarakat yang merasakan manfaatnya

  • Putu Sukartini

    Dulu saya suka sekali membaca buku-buku ilmiah. Kalau ke perpustakaan, saya nyarinya buku-buku yang merupakan hasil riset dan berisi pembuktian teori-teori
    Makin nambah umur, sepertinya otak saya pengen lebih santai, jadi senang baca yang bergenre lebih ringan bahkan cenderung romantis hehe

    Nah kalau disertasi dijadiin buku, mungkin bisa memilih tema yang populer atau gaya penulisannya yang lebih asyik agar menarik minat pembaca

  • elva s

    Banyak sekali hasil penelitian nggak terpublikasi, hanya tersimpan rapi dan akhirnya berdebu.
    Kayak hasil skripsi yang banyak disimpan diperpustakan, hanya sesekali dibaca saat para calon wisuda akan disidang untuk bahan referensi mereka. Selebihnya sama, tak dibaca.

    Kebanyakan orang males karena melihat tampilan nya dari luar yang begitu tebal isinya dan berat.

  • Nurhilmiyah

    Noted ini, Mbak Hani… TFS. insyaallah kl udah doktor kelak, saya pun akan membukukan disertasi saya. Penting sekali memang mengadaptasi karya ilmiah menjadi karya ilmiah populer yang bisa di baca berbagai kalangan. Agar ilmu pengetahuan menetes ke akar rumput.

  • Nur Husna Annisa

    Enakan baca buku yang diangkat dari disertasi. Kalo baca scientific works seperti paper, tesis dan disertasi, biasanya pengen lihat metode penelitiannya sih. Tapi kalo pengen dapet inti penelitiannya saja, aku lebih suka baca yang udah jadi bukunya, karena lebih ringan

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *