Yuk ke Lembang!
Sebuah ajakan bagi warga Bandung kalau lagi bosan atau mau healing tipis-tipis dengan mudah dan cepat. Lembang masa lalu, ketika saya kuliah, atau awal rumah tangga, kota kecil ini favorit. Minimal jajan ketan bakar lalu pulang lagi, sudah jadi penanda bahwa kita sudah sampai Lembang.
Tetapi jangan ditanya sekarang ini. Sebagai warga kota Bandung, kalau tidak terpaksa banget, males lah khusus ke Lembang, karena kembali ke Bandungnya pasti macet.
Letak Kota Lembang
Lembang adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, yang terkenal sebagai destinasi wisata dataran tinggi populer (1.300-2.000+ mdpl) dengan suhu sejuk sekitar 17-24 derajat Celsius.
Kota yang luasnya 2.090,37 km2 dan menurut data kependudukan tahun 2022 hanya 199.756 jiwa ini, mudah dijangkau dari Bandung, namun sering mengalami kemacetan parah saat akhir pekan atau hari libur.
Wisatawan yang main ke Bandung, biasanya lanjut ke Lembang, sejak banyak destinasi wisata dikembangkan di sana, misalnya Farmhouse Susu Lembang, Floating Market, The Great Asia Africa, Maribaya Hot Springs, Lembang Zoo, Lembang Wonderland, dan bermunculan berbagai restoran dan cafe.
Bahkan orang-orang luar kota Bandung menganggap wisata Lembang merupakan wisata Bandung. Atau sebaliknya, berbagai objek di Kabupaten Bandung Barat, masyarakat sering mengira terletak di kota Lembang.
Itu sebabnya lalu-lintas menjadi padat karena orang yang berwisata menggunakan bus-bus, travel, maupun mobil pribadi saat berkunjung ke kota ini.
Lembang Masa Lalu
Sebuah buku kecil berjudul “Lembang Masa Lalu” saya terima dari penulisnya Malia Nur Alifa, perempuan ceria yang sering jumpa bila ada acara walking tour.
Awal tahun saya ikut sebuah acara bernama Pelesir ke Lembang yang diadakan oleh komunitas “Eat-Chat-Walk“, pemandunya ternyata teh Malia.
Sekian tahun tak jumpa, saya pun baru tahu, bahwa di balik diamnya teh Malia, yang kelahiran Lembang, tak putus melakukan penelitian tentang tanah kelahirannya.
Buku bersampul abu-abu ini merupakan penggalan dari buku pertama berjudul “Satu Dekade” terbitan tahun 2023, yang merupakan hasil riset selama dua belas tahun dari tahun 2009-2022.
Pecahan buku pertama dengan judul “Lembang Masa Lalu” bertujuan menceritakan kisah sejarah Lembang berdasarkan hasil riset lapangan dan ditulis dengan singkat, padat, dan jelas.
Nama buku: Lembang Masa Lalu
Penulis: Malia Nur Alifa
Penerbit: Anomali-A
Tahun terbit: 2026
Ukuran buku: 14.5X20.5 cm
Jumlah halaman: 68 halaman


cover depan dan belakang buku “Lembang Masa Lalu”
Daftar Isi Buku “Lembang Masa Lalu”
- Lembang dan Asal Usul Penamaannya
- Penduduk Lembang dan Koloni Besarnya
- Situ Umar dan Situ PPI Lembang
- Patahan Lembang
- Tanggal Berdirinya Kecamatan Lembang
- Pasar Lembang
- Mirisnya Tugu Nol KM Lembang
- Lembang Pada Masa Kerajaan
- Para Portugis Hitam dan Baroe Ajak
- Budidaya Kopi di Lembang
- Para Congtipau dan Kampung Pangragajian
- Tiga Perkebunan Teh di Lembang
- Rumah Denis
- Peternakan Sapi di Lembang
- Kawasan Karmel
- Cisarua
- Koloni Soeryasoemirat
- Kampung Bewak
- Asal Muasal Kata “Cikole” dan Kampung Lapang
- Kweekschool Lembang
- Gang Minantu
- Masa Pendudukan Jepang di Lembang
- Kisah Jugun Ianfu di Lembang
- Patung Melia di Grand Hotel Lembang
- Grand Hotel Lembang
- Lembang Pada Masa Bersiap
- Pasir Pahlawan
- Kuncen Bandung
daftar isi
Selayang Pandang Buku “Lembang Masa Lalu”

bagian dalam buku
Menilik daftar isi yang sederet begitu panjang, menunjukkan bahwa Lembang memang menyimpan sejuta cerita. Setiap judul bab menorehkan runutan peristiwa yang terjadi di sana. Walaupun di setiap judul tersebut narasinya singkat dan padat, dengan adanya foto-foto pelengkap, pembaca jadi bisa membayangkan kondisi masa lalu.
Lembang memang menyimpan banyak cerita dari mulai masa kerajaan, lalu datangnya Hindia Belanda dengan sistem pemerintahan yang berbeda serta menjadikan kota Lembang salah satu afdeling, penghasil teh dan kopi.
Iklim Lembang yang sejuk menjadikan kota ini sebagai kawasan pendukung bagi kota Bandung, dengan kebun sayur dikembangkan oleh petani bangsa Boer asal Afrika Selatan, yang dibawa pemerintah Hindia Belanda. Lalu kisah jatuh bangunnya peternakan sapi penghasil susu bernama Baru Ajak, hingga kisah keberadaan sebuah biara dari ordo Carmel yang masih ada hingga saat ini.
Masa pendudukan Jepang di Lembang pun terekam jejaknya dalam buku ini, termasuk isu Jugun Ianfu, istilah bagi para wanita penghibur bagi para anggota tentara Jepang selama Perang Dunia II, yang menorehkan luka batin bagi perempuan di koloni-koloni jajah Jepang.
Penutup
Melalui buku “Lembang Masa Lalu” menambah informasi bagi saya tentang kota Lembang dulu hingga sekarang. Beberapa artefak yang dikisahkan dalam buku, masih bisa dilacak hingga hari ini. Tetapi banyak juga yang hanya berupa foto hitam putih dan sudah pudar dimakan usia.
Keberadaan artefak atau bangunan masa lalu yang menyimpan kisah tersebut, sangat tergantung dengan kebijakan pemerintah daerah setempat. Apakah ada political will untuk melindunginya dan memertahankan keberadaannya, atau dijual, dihancurkan serta berganti dengan fungsi baru yang lebih menguntungkan. Contohnya Grand Hotel Lembang yang cukup ikonik, rencananya akan menjadi Museum Transportasi, di bawah pengelolaan salah seorang selebriti.

bersama Malia di Piknik Kopi, ex Rumah Baru Ajak
Sayangnya buku ini dicetak terbatas berdasarkan pre-order dan oleh penulisnya untuk alasan tertentu tidak pernah melakukan cetak ulang.
Mungkin suatu saat bila penulisnya berkehendak dicetak ulang, bisa diupayakan foto-foto dengan sentuhan AI, agar lebih tajam, bahkan mungkin berwarna. Lagi pula masih ada buku kedua dan buku ketiga, pecahan dari buku “Satu Dekade” yang merupakan kelanjutan dari buku pertama ini. Walaupun buku non-ISBN, isi buku ini menambah wawasan saya, tentang perjalanan Malia merangkai kepingan puzzle satu demi satu akan kota kelahirannya, LEMBANG.
Masih ada tulisan-tulisan bernas Malia lainnya yang dapat dibaca di website https://www.ayobandung.id/
Nah, bagi pembaca, pernahkah ke Lembang? Ada cerita apa tentang Lembang?
![[ReviewBuku] Lembang Masa Lalu](https://garis.my.id/wp-content/uploads/2026/03/feature-lembang.jpg)


Pernah ke Lembang. Betul banget soal macet dan sulitnya dapat transportasi umum di sana. Tetapi memang secara udara dan pemandangan cantik banget ya
Wow, buku-buku ‘lokal’ seperti ini yang biasanya menyimpan banyak memori/wawasan yang otentik dari penulisnya. Keren dan salut deh.
Dari rumah ku di Cimahi sebenarnya ada jalur pintas menuju Lembang. Meski ukuran jalannya pas-pasan, lumayanlah untuk mempersingkat waktu penjelajahan. Tentu saja dengan catatan bahwa lalu lintasnya gak macet. Sayangnya seringkali gak begitu. Jadi kalau mau ke Lembang, aku musti pikir-pikir dulu. Pegel euy. Melelahkan fisik banget.
Bukunya oke banget kalau ditelusur dari daftar isinya. Banyak info-info penting bersejarah yang patut kita ketahui tentang Lembang. Afdeling yang seharusnya menyimpan sekian banyak jejak heritage yang bisa kita telusuri. Dan buku ini mengulas hampir semua dengan rangkaian riset bertahun-tahun. Luar biasa.
Gimana cara untuk memiliki bukunya Mbak? Pengen sekali menyusur setiap lembarannya. Secara aku paling suka heritage and history traveling seperti ini. Pengen juga ngolah buku ini biar lebih proper tampilannya. Duh gatel tangan mau dipercantik dan diterbitkan oleh ANM.
Wah daftar isi bukunya menarik banget buat dibaca. Aaya suka buku-buku berkisah sejarah gini. Apalagi kalau penulisannya model story telling bukan berita.
Buku non isbn berarti kalau mau beli ke penulisnya ya, mba?
Kebayang baca buku ini jadi seakan menuju mesin waktu ke masa Lembang pada jaman dahulu, apalagi ada disampaikan saat Hindia Belanda. Waaahh, mantap sih ini, jadi buku sejarah budaya yang menarik buat dibaca
jadi pingin punya, sayangnya gak dicetak ulang ya?
saya punya kenangan manis tentang Lembang, dulu punya teman kuliah yang rumahnya di Lembang, jadi setiap weekend kita ke rumahnya dan setiap pagi akan disuguhi susu hangat, fresh dari kandang
sayang beberapa tahun lalu saya kerumahnya, kayanya peternakannya udah gak ada deh
Wah sayang dicetak terbatas ya bukunya. Padahal kalau dicetak lebih banyak dan diedit lebih layak bisa jadi semacam buku panduan bagi wisatawan yang ingin berkunjung ke Lembang
Pernah sekali ke Lembang namun karena durasinya singkat kurang berkesan karena buru-buru banget harus mengunjungi beberapa destinasi.
Kalau ada kesempatan lagi, pengen baca buku ini terlebih dahulu sebagai referensi untuk memilih destinasi yang punya latar sejarah menarik juga selain populer.