Zaman anak-anak masih kecil, saya dan suami memutuskan untuk punya perpustakaan mini di rumah. Tujuannya agar anak-anak dibiasakan membaca sedari kecil dan dengan adanya perpustakaan, mereka akan tertib dan sayang akan buku atau bahan bacaan.
Berhubung ruangan di rumah terbatas, kami tidak menyiapkan sebuah ruangan khusus sebagai perpustakaan. Tetapi cukup rak kayu yang justru merupakan warisan dari rumah mertua. Bukunya tentu saja waktu itu dibeli satu per satu, disesuaikan dengan usia anak dan kondisi finansial kami.
Banyak buku dari rumah orang tua yang asalnya adalah buku koleksi pribadi, kemudian saya bawa ke rumah sendiri setelah menikah. Ketika remaja, saya suka membaca novel petualangan atau sejarah. Ada pula sederetan buku anak-anak dari koleksi kakak saya yang dihibahkan kepada keluarga kami, karena anak-anak mereka sudah dewasa dan tidak ada rencana untuk membaca ulang.
Menata Koleksi Perpustakaan Mini
Saya dan suami boleh dibilang penggemar komik. Komik berbagai genre pelan-pelan menambah koleksi kami, sehingga beberapa seri akhirnya saya bundel dan dijilid. Komik-komik tersebut ada yang sudah saya beli sebelum menikah dan satu per satu dilengkapi ketika membentuk keluarga.
Anak-anak pun jadi ikut menyukai komik, bahkan belajar membaca melalui komik.
Koleksi-koleksi komik kami antara lain:
- Tintin
- Asterix
- Agen 212
- Tangui and Laverdure
- Lucky Luke
- Smurf
- Komik Wayang karya R.A.Kosasih
- Lat (komik Malaysia)
- dan lain-lain.
Selain komik, anak-anak pun kami kenalkan dengan buku dongeng, kisah legenda dari berbagai daerah maupun negara, bahkan science fiction dari penulis terkenal. Buku-buku kecil dari penerbit major seperti Elex Media Komputindo yang menceritakan tokoh-tokoh dunia pelan-pelan terkumpul secara signifikan.
Anak-anak bertambah besar, maka beda lagi koleksi mereka. Genrenya pun berbeda antara si Kakak dan si Adik. Di sisi lain, karena kesibukan, saya pun jarang punya waktu untuk membaca novel maupun menambah koleksi buku di rak.
Kebiasaan membaca yang sudah saya tanamkan dari kecil ke anak-anak, sangat membantu agar kami tetap berkomunikasi dan mencegah budaya phubbing, seperti yang ditulis oleh teman saya blogger Surabaya.
Buku-buku yang kami kumpulkan secara pribadi maupun dibeli ketika anak-anak kecil hingga remaja, tentunya perlu ditata dengan rapi, bukan?
Untuk itu saya mengklasifikasikannya secara sederhana saja. Buku komik dikelompokkan dengan buku komik. Buku anak dan dongeng dalam satu deretan. Kemudian buku-buku petualangan untuk remaja dalam deretan yang lain.
Supaya terdata dengan baik, saya membuat daftar nama-nama buku lengkap dengan nama pengarang dan penerbitnya dalam suatu tabel.
Perlengkapan Perpustakaan Mini

perpustakaan mini di rumah
Berikut adalah tips untuk membuat pojok baca yang nyaman dan bisa menjadi tempat santai dan menyenangkan bagi keluarga.
Lokasi yang tenang
Walaupun bukan berupa ruangan khusus, kalian bisa mencari spot yang tenang di rumah. Misalnya pojok yang tidak terlalu sering dilalui orang, sehingga kita bisa baca dengan tenang dan agak menyendiri.
Cukup terang
Sebagai pojok baca, sebaiknya ada cahaya alami, jika memungkinkan, dari jendela terdekat. Bila tidak memungkinkan, tentu saja bisa menambahkan lampu yang cukup terang tetapi tidak menyilaukan.
Rak buku disertai tempat duduk
Perpustakaan mini di rumah harus memiliki ruang yang cukup untuk rak buku, tetapi juga tempat duduk yang nyaman. Nah, tempat duduk ini tidak harus berupa kursi dan meja seperti di perpustakaan kampus, tetapi bisa berupa sofa kecil. Bahkan bantal duduk atau bean bag dan karpet pun bisa menjadi pojok baca yang cozy. Utamanya sih, sambil membaca kita masih bisa menjangkau buku yang akan dibaca.
Sedangkan rak untuk buku-bukunya bisa terbuat dari kayu atau besi yang lebih kokoh. Hati-hati bila akan memakai rak buku terbuat dari kayu pres atau kayu lapis, karena ambalannya tidak terlalu kuat menahan beban buku. Dalam waktu tidak lama, papan ambal akan melengkung.
Kalian bisa membeli rak buku dari rangka besi yang lebih kuat, yang sekarang banyak juga model cukup estetis. Sedangkan ambalnya bisa saja terbuat dari kayu.
Penutup
Buku-buku di perpustakaan mini di rumah kami ini diberi nama Pustaka Lotus yang sebetulnya tidak terbatas pada buku bacaan anak-anak dan komik. Profesi saya sebagai pengajar di jurusan Teknik Arsitektur tentu saja bejibun buku-buku yang menunjang proses belajar-mengajar. Buku-buku saya pun semakin beragam genre-nya, ketika saya juga belajar menulis buku solo dan menerbitkan beberapa buku solo, buku kolaborasi, dan antologi.
Begitu juga dengan suami, yang akhirnya juga pindah profesi dari budak korporat menjadi pengajar juga di jurusan Desain Komunikasi Visual.
Rak-rak buku pun melebar dan meluas. Akhirnya, memang perlu satu ruangan khusus yang berjajar 5-6 rak buku yang menjadi satu dengan ruang kerja.
Ketika anak-anak kemudian menikah dan menempati rumah sendiri, mereka membawa buku-buku yang pernah mereka beli ke rumah masing-masing. Rupanya sejarah berulang, seperti ketika saya berumah tangga, membawa buku koleksi pribadi dari rumah orang tua ke rumah saya.
Mungkin nanti pada suatu hari, saya akan memilah lagi buku-buku di rumah yang tidak dibaca ulang untuk dihibahkan kepada yang berkenan. Di usia senja seperti saya, beres-beres rumah dan melap debu yang tidak habis-habis cukup menguras energi.
Sumber image:
https://www.thespruce.com/home-library-design-ideas-4129190


