Ada Jam Baca di Menel Cafe  & Books, Bandung

Seliweran di media sosial tentang tempat ini, Menel Cafe & Books. Lokasinya di Jalan Gajah no 12, Bandung. Biasa lah, foto Instagram memang seringnya lebih menarik daripada aslinya. Lalu, bukan berarti waktu saya ke tempat ini, ternyata tempatnya tidak menarik. Justru sebaliknya, menarik dan cozy, walaupun lebih kecil daripada bayangan saya, sih.

Apa itu Menel Cafe & Books, Bandung?

Selasa pagi itu, saya dan suami berangkat dari rumah naik angkot, ke Pasar Palasari. Rencananya sepulang dari Pasar Palasari, mampir ke Menel Cafe & Books ini.
Kami turun di Jalan Buah Batu, di ujung Jalan Gajah, lalu jalan kaki ke Pasar Palasari.

Dalam perjalanan menuju pasar, melewati bangunan berwarna hijau yang bentuknya berbeda di bandingkan bangunan di kiri kanannya. Tertampang di dinding facade tulisan Menel, icon bentuk gajah dan no 12.

Buat teman-teman di luar Bandung yang belum tahu. “Menel” itu artinya gajah kecil atau anak gajah.
Lucu juga, bangunan namanya gajah di Jalan Gajah.

Bandung memang ada saja nama-nama jalan sesuai tema.
Jalan Gajah itu nyambung ke Jalan Banteng, yang sekarang bernama Jalan K.H. Ahmad Dahlan. Dekatnya ada Jalan Rusa, Jalan Lembu, Jalan Pelanduk, dan lain-lain.

Penasaran, saya googling dulu, Menel Cafe & Books tuh apa sebetulnya.

Kalau menurut internet, begini penjelasannya:

Menel Cafe & Books adalah sebuah ruang kreatif dan tempat nongkrong yang memadukan konsep kafe dengan perpustakaan atau toko buku di Kota Bandung. Terletak di kawasan Malabar, Lengkong, tempat ini dirancang khusus bagi para pencinta buku, pelajar, mahasiswa, maupun pekerja kreatif yang ingin menikmati suasana tenang untuk membaca, bekerja (work from cafe), atau berdiskusi.

  • Konsep Literasi dan Kuliner: Menawarkan pengalaman santap kuliner ringan dan kopi sambil dikelilingi oleh koleksi buku bacaan yang dapat dinikmati pengunjung di tempat.
  • Suasana Nyaman: Reviewers mention tempatnya yang nyaman, tenang, serta sangat mendukung untuk aktivitas membaca, nugas, atau sekadar bersantai menghabiskan waktu luang.
  • Jam Operasional: Beroperasi setiap hari mulai pukul 07.00 hingga 23.00 malam, memberikan fleksibilitas bagi pengunjung yang ingin datang pagi hari maupun malam hari.

Berkunjung ke Menel Cafe & Books

Sepulang dari pasar, mampir ke Menel Cafe & Books, pengunjung masih sepi. Saya tanya ke petugas yang sedang bersih-bersih, apakah cafe sudah buka?
“Sudah….”, sahutnya.

jam buka dan jam baca

jam buka dan jam baca

Begitu masuk di kanan ada counter pemesanan, termasuk meja kasir dan pemesanan minuman. Di sebelahnya ada meja penjualan merchandise dan pernak-pernik berupa book mark, kartu-kartu, dan lain-lain.

meja penjualan merchandise

meja penjualan merchandise

Di kiri ada dua meja panjang dikelilingi oleh kursi-kursi. Di tengah ruangan, tangga ke lantai dua dan tiga. Tangga membentuk U, sehingga ada ruang di tengah berundak dan diberi bantalan warna-warni. Foto area inilah yang cukup epic, terlihat besar dan lega, cocok untuk baca-baca.

tangga ke lantai 2

ruang baca dan deretan ear muffs

Sepanjang dinding dalam rak-rak buku yang buku-bukunya tidak terlalu banyak. Bagi teman-teman yang pernah ke Perpustakaan Bunga di Tembok, mungkin bisa membandingkan satu sama lain. Sama-sama berupa book cafe yang sekarang mulai menjamur di beberapa kota.

spot undak-undak

rak buku yang masih diberi tali merah

Sedangkan di sisi jendela kaca yang diberi tirai ada meja tinggi dan kursi yang sepadan.
Saya dan suami memilih meja tengah, meletakkan tas, dan saya menuju counter pemesanan. Pagi itu panas mulai menyengat, apalagi kami habis dari pasar, segelas minuman dingin sepertinya cocok disertai camilan.

Saya pun memesan segelas Matcha Latte dingin dan Hojicha Latte dingin. Untuk light bites, saya memesan satu Singkong Thailand. Pagi-pagi gini, rebus-rebusan sepertinya cocok, jangan gorengan. Sebuah keputusan yang ternyata ada kisah lanjutannya…

Sambil menunggu hidangan tiba, saya pun jelajah ruangan. Naik ke lantai dua.

Di lantai dua ada sebuah ruangan berpintu kaca, di dalamnya tampak meja dan kursi. Sepertinya ini ruang rapat.
Di sisi lain, ada dua cerukan ruangan kecil bertirai dilengkapi dengan meja dan kursi. Sedangkan di ruangan tengah ada beberapa meja dan kursi. Ada sekelompok pengunjung yang asyik berbincang sambil menikmati hidangan.

pengumuman jam baca dan ruang rapat

ruang kerja kelompok

Masih ada ruangan di luar berupa teras dilengkapi pagar balkon, yang diperuntukkan sebagai smoking area. Cukup banyak kursi meja di sini. Ada juga rak-rak dilengkapi majalah Nat Geography.

teras di lantai 2

Toilet dan Mushola ada lantai dua juga.

Sebetulnya masih ada Lantai 3, tapi ada petunjuk bahwa ruangan Lantai 3 belum bisa digunakan. Saya urung naik ke Lantai 3.

Kalau dari luar, Lantai 3 ini aslinya merupakan atap bangunan, tetapi diberi atap steel deck dengan rangka baja. Mungkin nantinya akan dipakai sebagai roof garden.

Apa itu Jam Baca dan Tanya Pustakawan

Tadi waktu saya naik ke Lantai 2, dekat tangga ada poster bertuliskan Jam Baca.
Saya tidak tanya lebih lanjut, hanya memfoto, lalu eskplor ruangan.

Sambil menunggu minuman disiapkan, saya pun melihat-lihat buku dari rak, mengambil dua buah, dan membaca tipis-tipis. Awalnya akan membaca sebuah buku, tapi tampak agak berat bacaannya, buku saya kembalikan, dan mengambil yang lain.

Sementara itu, dua gelas minuman dingin sudah hadir. Kami pun lanjut baca.

Ternyata Kakak barista menyampaikan sesuatu pesan, seperti ini:

Buku harus baca ditempat, tidak boleh dibawa pulang. Karena hari masih pagi, kami belum boleh membaca juga. Ada JAM BACA, yaitu pukul 13.00-21.00. Untuk itu kami harus Tanya Pustakawan, di meja di samping meja counter.

Pagi itu memang ada tali merah di depan rak, sih, artinya tidak boleh ambil buku.
Makanya di rak-rak buku selain ada beberapa patung-patung gajah yang imut, ada tulisan TANYA PUSTAKAWAN.

Saya pun mengembalikan buku-buku yang saya ambil, menikmati minuman sambil scroll HP (seperti biasa…).

meja pustakawan

Tentang Singkong Thailand

menu

menu cafe

Tunggu punya tunggu, mana nih Singkong Thailandnya? Teteh yang melayani customer, bolak-balik membawa baki, padahal tamunya datang setelah kami. Melirik hidangan yang di atas baki, sepertinya Tahu Cabe Garam dan hidangan berupa gorengan.

“Pak, rebus singkong lebih lama ya daripada menggoreng?”
“Iya lah, minimal 20 menit…”

Itulah obrolan saya dan suami. Saya pun tak sabar, tanya ke staf, mana menu saya?
Nanti diantar, kata si Teteh…

OK. Kami lanjut scroll HP. Kebetulan saya bawa tab, nyicil ajalah nulis artikel dari tab.
Tak lama, staf barista membaca segelas kecil isi ice cream. Minta maaf, karena menu pesanan kami lama siapnya. Sebagai compliment, kami mendapatkan segelas ice cream.

segelas matcha latte dan gojicha latte serta compliment ice cream

Teteh pun tanya melalui jendela penghubung ke dapur, Singkong-nya masih lama nggak?
Supaya engga kesal, saya menyempatkan tanya-tanya sajalah, wawancara tipis-tipis ke Kakak Barista.

Sejak kapan, ownernya siapa, di atas ada ruangan berapa sewanya, dst…

  • Penjelasan Kakak Barista, Menel Cafe & Books baru sebulan buka. Owner kurang tahu siapa, karena ramai-ramai.
    Sepertinya joint atau kolaborasi.
  • Ruang rapat di Lantai 2, sewanya Rp750.000 untuk 5 jam. Saya lupa tanya, dapat benefit aja saja, dengah harga segitu.
  • Lalu dua ruangan bertirai di Lantai 2 juga, untuk kerja kelompok, minimal 3 orang. Tidak boleh untuk kerja sendirian. Tidak ada harga sewa kalau ruangan kecil ini.

Akhirnya setelah 30 menit, Singkong Thailand kami tiba. Semangkuk panjang berisi singkong disiram saus kental dan diberi taburan kacang. Rasanya antara campuran kenari dan kacang tanah.

Singkong Thailand

Singkongnya lembut, dan sausnya gurih. Sambil menghabiskan camilan, yang maunya sehat karena rebusan, tapi ternyata bikinnya lebih lama. Kami ngobrolin, ini bikin sendiri kayaknya bisa. Saya pun scroll aplikasi Cook Pad, dan menemukan resep Singkong Thailand.
Gimana kalau balik lagi ke pasar beli singkong?

Oh ya belum review minuman dinginnya yah. Matcha Latte-nya enak. Matcha-nya terasa kental, terasa tumbuh-tumbuhan lah. Sedangkan Gojicha-nya agak kurang wangi smokey-nya. Karena pesan less ice, ya engga penuh segelas sih.

Penutup

Suami mengingatkan untuk pulang. Apalagi tadi saya beli daging cincang, daging untuk sup, dan beberapa sayur, takut rusak barang belanjaan kalau berlama-lama.

Setelah menghabiskan tegukan terakhir minuman dingin, kami pun beranjak meninggalkan Menel Cafe & Books, untuk kembali ke pasar membeli singkong. Lalu pulang ke rumah naik angkot lagi.

Mungkin karena baru, belum banyak yang tahu, bahwa kalau pagi, engga boleh baca di tempat. Tadi saya lihat beberapa konsumen sesudah saya, yang ambil buku dan baca juga sih. Hal ini sempat saya sampaikan ke Kakak Barista, dia koq boleh?… 😀

Menel Cafe & Books, menurut saya lebih cocok tempat ini sebagai co-working space sih, WFC, atau buat kerja kelompok. Tempat yang enak untuk mengerjakan tugas, tidak berisik, karena di beberapa tempat ada peringatan untuk “mengendalikan suara”. Musik yang diperdengarkan pun lembut. Di meja Tanya Pustakawan, ada rak menggantungkan beberapa ear muff warna kuning. Diperlukan bagi yang betul-betul ingin konsentrasi tanpa gangguan suara apapun.

Apakah cocok sebagai perpustakaan? Dari segi kuantitas, bukunya tidak banyak. Sepertinya cukup random buku-buku yang dipajang. Ada buku-buku Karl May, ada ensiklopedia, buku traveling hingga arsitektur dan konstruksi.

Konsep Book Cafe memang menjamur di beberapa kota. Salah satunya di Omah Wiromargo di Malang, yang juga hanya membolehkan pengunjung untuk membaca di tempat, tetapi tidak ada jam baca tertentu seperti di Menel Cafe & Books.

bonus singkong thailand bikin sendiri

bonus Singkong Thailand bikin sendiri

Tinggalkan komentar