Sebuah pesan langsung hadir di Instagram saya, dari Kang Atep Kurnia. Beliau penulis buku yang saya hadiri ketika bedah buku Jonathan Rigg di Imah Janela, Cicalengka.
Beliau menawarkan buku karyanya yang baru terbit berjudul “Boemeltrein – Sejarah Jalur dan Stasiun Kereta Api Padalarang-Cicalengka.
Beberapa hari sebelumnya saya sempat scroll medsos beliau, ada jadwal bedah buku di Perpustakaan Bunga di Tembok.
Saya pun berjanji untuk sekalian hadir di acara bedah buku tersebut.
Perpustakaan Bunga di Tembok
Perpustakaan bernama unik, “Bunga di Tembok“, awalnya saya lihat di IG-nya teman penulis dan bloger, Mbak Annie Nugraha.
Sudah lama ingin mengunjungi perpustakaan ini, karena tidak jauh dari rumah saya. Momennya pas banget Sabtu, 9 Mei 2026, pukul 15.30-18.00. Saya jadi sekaligus mendapatkan dua manfaat: diskusi buku dan mengamati ruang perpustakaannya.
Sore itu, selepas asar, semula mau naik ojek online saja, jadi naik taksi online, karena tiba-tiba hujan turun cukup deras.
Beginilah Bandung, pagi siang langit cerah, tiba-tiba sore hujan.
Ketika saya tiba di lokasi, hujan masih mendera, sehingga tak sempat foto bangunan. Nanti saja lah pulangnya.
Dari jalan, tampak sebuah bangunan dua lantai kurang lebih selebar enam meter di antara deretan rumah-rumah di Jalan Pasirluyu Timur, Bandung. Sore itu, lampu dari dalam Perpustakaan tampak benderang dan sudah ramai pengunjung. Di depan dinding sebelah kanan dan teras disediakan kursi-kursi yang terisi pengunjung. Sebuah rak helm dan jas hujan tegak berdiri di dinding sebelah kiri.
Di dinding selain ada logo Perpustakaan BdT juga ada logo Bandung Bergerak, sebuah media jurnalisme dan komunitas di Bandung yang cukup aktif.
Dinding dekat pintu masuk bertuliskan penggalan puisi legendaris, Wiji Tukul, “Bunga dan Tembok“, yang menjadi inspirasi dari nama perpustakaan ini.
sepenggal puisi “Bunga dan Tembok” dan lukisan bunga di tembok
Ketika saya masuk ke dalam, sudah ada pengunjung dan panitia masih merapikan kursi-kursi untuk peserta yang akan hadir pada acara bedah buku.
ruang utama dan tangga ke lantai dua
Di belakang susunan kursi untuk narasumber, terdapat dinding kaca besar yang memperlihatkan Ruangan Komunitas di baliknya. Di dalamnya, meja panjang dan di dua sisinya kursi-kursi pun terisi penuh oleh pengunjung. Ruangan Komunitas ini merupakan ruang baca, ruang diskusi, atau ruang untuk mengerjakan tugas.
Ada sebersit keharuan menyeruak. Budaya baca dan kedekatan dengan buku masih kental kok di kalangan generasi muda. Ada rasa tenang mengamati suasana bangunan yang hangat ini.
Sabtu sore anak-anak ini engga nge-mal, tapi ke perpustakaan.
Ruang Komunitas dan detail rak buku
Di sisi kiri ruangan ada meja pemesanan yang melayani pengunjung untuk memesan kopi, minuman nonkopi, dan menu ringan. Di bawahnya rak buku, berjajar buku-buku yang boleh dibaca di tempat. Di Perpustakaan BdT ini pengunjung diperbolehkan membaca sambil menyesap minuman atau menikmati camilan, sebuah langkah yang menggabungkan budaya ngopi dan baca buku.
Di sisi kanan ruangan, rak buku penuh buku dari ujung ke ujung dinding setinggi plafon.
Keterangan genre buku mulai dari novel, pendidikan, sejarah, lingkungan, antologi, hingga buku anak tertulis rapi di tepi rak.
Dari berbagai sumber, ternyata rak-rak ini disewakan bagi siapa saja yang ingin buku pribadi atau komunitas dipajang di rak BdT. Buku-buku yang dipajang bebas untuk dibaca oleh pengunjung secara gratis. Selain itu, ada juga buku-buku baru maupun second yang sifatnya titip jual.
Sepetak pojok penjualan buku di depan tangga, papan informasi, dan Pojok Zine di samping tangga, menambah rasa ingin tahu pengunjung. Saya tidak naik ke atas, sepertinya berfungsi sebagai kantor.

papan informasi agenda bedah buku
Bedah Buku “Boemeltrein – Sejarah Jalur dan Stasiun Kereta Api Padalarang-Cicalengka”

persiapan bedah buku
Saat menunggu acara dimulai, tak lama kemudian Kang Atep hadir. Saya pun membeli buku dan sekalian book signing. Buku dengan cover foto Stasiun Cicalengka oleh K. Kroitzsch antara 1900-1010 (Koleksi collectie.wereldculturen.nl TM-10014024) pun segera saya baca cepat.
Atep Kurnia, sang penulis, seorang peminat literasi dan budaya Sunda, yang telah menuliskan buku-buku sejarah dan esai berbahasa Indonesia maupun Sunda. Lebih akrab dengan julukan Kang Atep, melalui tulisannya, ia merupakan periset, penerjemah, dan editor yang tekun menelusuri jejak budaya, sejarah, dan literasi Sunda.
Tulisan-tulisan Kang Atep dalam bahasa Indonesia telah dimuat di berbagai media nasional dan daerah, seperti Pikiran Rakyat, Kompas, Koran Tempi, Tribun Jabar, Galamedia, Karsa, Geomagz, Berita Geologi, dan lain-lain.
Sedangkan karya berbahasa Sundanya dapat ditemukan di Cupumanik, Mangle, Galura, Seni Budaya, Bina Da’wag, Ujung Galuh, Iber, dan Cacandran.com.
Nama buku: Boemeltrein – Sejarah Jalur dan Stasiun Kereta Api Padalarang-Cicalengka
Penulis: Atep Kurnia
Penerbit: Mabra
Tahun terbit: 2026
Ukuran buku: 14X21 cm
Jumlah halaman: 248 halaman
QRCBN: 62-2963-1502-590
Harga: Rp105.000,-
cover depan dan belakang
daftar isi
Daftar Isi:
- Stasiun Padalarang (1884)
- Stasiun Gadobangkong (1899)
- Stasiun Cimahi (1884)
- Stasiun Cimindi (1897)
- Stasiun Andir (1899)
- Stasiun Ciroyom (1820)
- Stasiun Bandung (1884)
- Stasiun Cikudapateuh (1899)
- Stasiun Kiaracondong (1893)
- Stasiun Gedebage (1884)
- Stasiun Cimekar (1899)
- Stasiun Rancaekek (1884)
- Stasiun Haurpugur (1899)
- Stasiun Cicalengka (1884)
Acara bedah buku selalu diadakan hari Jumat atau Sabtu sore. Kali ini dimoderatori Nurul Malia dan penanggap Hafidz Azhar. Fokus pembahasan adalah menelusuri sejarah jalur dan 14 stasiun kereta api dari Padalarang ke Cicalengka.
Menurut pemaparan Kang Atep, penulisan buku “Boemeltrein” berbasis pada riset arsip, laporan kolonial sebagai pihak yang membangun jalur kereta api dan stasiunnya, serta warta surat kabar.
Boemeltrein sendiri artinya kereta api yang jalannya lambat dan berhenti di setiap stasiun.
Awal penulisan buku disebabkan juga oleh pengalaman pribadi menggunakan kereta lokal Cicalengka-Padalarang atau sebaliknya, yang sekarang bernama Commuter Line Bandung Raya.
Sepanjang perjalanan ini, beliau sering melamunkan sejarah pembangunan jalur kereta api lokal ini, terutama bila berhenti agak lama.
Dari sinilah Kang Atep mulai melakukan riset, mengumpulkan berbagai bahan pustaka tentang sejarah kereta api dari berbagai sumber.

suasana bedah buku
Setelah pembuka dari narasumber, acara dilanjutkan dengan komentar dari penanggap yang telah membaca buku Boemeltrein.
Hafidz Azhar menanggapi, bahwa buku Boemeltrein ini sarat informasi. Begitu melimpahnya informasi sehingga membingungkan pembaca. Hafidz menyarankan untuk menambahkan footnote, sebagai pelengkap.
Di sisi lain, bila memperhatikan daftar isi, pembahasan stasiun disusun berdasarkan alur perjalanan kereta api, bukan tahun dibangunnya stasiun.
Contohnya:
- Stasiun Bandung (1884)
- Stasiun Cikudapateuh (1899)
- Stasiun Kiaracondong (1893)
Setelah diskusi, moderator melempar pertanyaan ke audiens, yang cukup seru juga menanggapi dari sudut pandang yang berbeda.
Penutup
Membaca buku Boemeltrein ini, selain kita mendapatkan informasi dari stasiun ke stasiun, juga dibahas latar belakang kota dan potensi kawasan tempat stasiun tersebut berada.
Itu sebabnya, menurut Hafidz, buku ini sarat informasi, mulai dari peran VOC membangun kota-kota afdeling, sejarah perkebunan, gudang perkebunan yang dekat dengan stasiun, sejarah kawasan militer, potensi wisata, dan banyak lagi.
Salah satu pertanyaan dari audiens, adakah sudut pandang dari pribumi waktu itu ketika mulai dibangunnya jalur perkeretaapian?
Tanggapan dari Kang Atep justru mendukung bila ada penelitian lanjutan, untuk mengembangkan menjadi buku berikutnya.
Hari menjelang magrib ketika acara bedah buku ini berakhir. Saya masih menyempatkan foto-foto lagi suasana Perpustakaan Bunga di Tembok. Menemukan beberapa buku dari komunitas PAPI (Pondok Antologi Penulis Indonesia) yang saya pernah ikut menulis di salah satu tema antologinya.
Sedikit wawancara dengan barista, untuk menanyakan menu yang ditawarkan.

rak buku PAPI dan ANM
Hujan sudah reda, saya pun memesan ojek online saja untuk pulang ke rumah. Sementara itu, beberapa pengunjung masih saling berdiskusi. Ruang Komunitas atau ruang baca pun masih penuh…











