Bukan Sekadar Hidangan ala Kadarnya Karnedi Nataatmadja

Geliat Bandung dalam berkesenian seolah tak ada habisnya. Tak perlu event besar atau gedung mewah untuk memamerkan karya. Di sebuah gedung lama, di antara ruko-ruko di kawasan Pecinan, di bekas pabrik sabun, sekarang ada wadah untuk berkesenian. Inilah Tjap Sahabat Gallery & Cultural Hub, terletak di Jalan Cibadak 168A, Bandung.

Tjap Sahabat dirancang sebagai titik temu antara masa lalu, kini, dan yang akan datang, terutama dalam penampilan seni dan budaya serta menumbuhkan bentuk-bentuk ekspresi di tengah masyarakat. Sehingga masyarakat sekitar juga diharapkan bisa menikmati dan mengapresiasi seni.

Di salah satu ruang di Tjap Sahabat inilah digelar pameran yang merupakan rekonstruksi arsip Karnedi Nataatmaja (1924-2003), dalam rangka HUT ke-81 Republik Indonesia.

Siapa itu Karnedi Nataatmadja

Sebuah narasi dari Wibisono Tegar Guna Putra, kurator Tjap Sahabat, berjudul Karnedi: Ingatan yang Dekat dan Diingat.

Sang seniman, Karnedi Nataatmadja, yang lahir di Garut pada 1924, setiap Agustus, akan membuka pintu rumah untuk para tetangga. Terdapat undangan dengan tulisan yang tak pernah absen: “HIDANGAN ALA KADARNYA“.
Undangan ini bukan sekadar basa-basi, tetapi untuk singgah, duduk, makan, mengobrol, di antara lukisan-lukisan yang bersandar di antara perabot ruang tamu.

undangan

open house, HIDANGAN ALA KADARNYA

Sepanjang hidupnya di Bandung, ia melukis, mengilustrasi buku, dan memotret gang-gang di sekitar rumahnya—tanpa pernah duduk di bangku sekolah seni rupa mana pun. Ia belajar secara otodidak, kemudian ikut mendirikan Sanggar Jiwa Mukti bersama Barli Sasmitawinata pada 1948, bahkan sempat menjabat sebagai ketuanya saat Barli bersekolah di Eropa.

Kita mungkin kurang mengenal Karnedi. Tak seterkenal Nyoman Nuarte, sang pematung legendaris dengan desain Istana Negara di IKN. Lalu Sunaryo, dengan Gallery Sunaryo-nya di kawasan Dago Utara. Serta seniman-seniman lain yang “makan” sekolahan.

Berkunjung ke Pameran Karnedi Nataatmadja

pintu masuk ke cafe

pintu masuk gallery

Sabtu siang itu, setelah bersama suami menghadiri pameran berjudul Museum Mini Suyadi di halaman Hotel Sawunggaling, Bandung. Kami naik taksi online menuju Jalan Cibadak, untuk nantinya berkunjung ke Tjap Sahabat.
Sebelumnya makan siang dulu di Soto Bandung Ojo Lali, juga di Jalan Cibadak. Selepas maksi, jalan kaki saja ke Tjap Sahabat.

Jalan Tjibadak masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya, pusat grosir yang cukup sibuk, bahkan di akhir minggu. Zaman anak-anak masih sekolah, saya sering ke sini membeli buku dan alat-alat tulis, karena harga dibandrol dengan harga grosir. Pernah juga memesan kertas gambar untuk keperluan kampus, sekaligus meminta dipotong sesuai standar.

Tak lama, kami sampai di Tjap Sahabat, hampir tak terlihat dari tepi jalan, karena tampak luarnya sama dengan ruko-ruko lainnya.
Hanya ada spanduk kecil tergantung dan poster ukuran A3 bahwa ada pameran karya Karnedi.

poster pameran Karnedi di samping daftar menu cafe

Itu pun pakai salah masuk dulu. Kami masuk ke cafe yang ada di depan, sedangkan ruang pameran ada di bagian belakang cafe. Sebetulnya ada jalan masuk khusus dari samping, tapi kami tadi engga notice.
Di Tjap Sahabat, ada 3 ruangan, yaitu:

  • Loka Temu, merupakan kafe yang berfungsi sebagai ruang perjumpaan
  • Loka Seni, ruang seluas 45 meter persegi, di lantai dua, yang bisa dicapai dari Loka Temu
  • Loka Imajinasi, gedung setinggi hanggar, ex pabrik seluas 228 meter persegi, untuk ruang pamer, pertunjukkan dan kegiatan kolaboratif lainnya.

Setelah ke luar melalui pintu samping cafe, kami pun sampai ke ruangan yang sekarang berfungsi sebagai galeri. Uniknya ruangan ini seperti dibiarkan ala kadarnya sebagai ex pabrik.

tata letak pameran

sisi lain ruang pameran

Lantai diflur semen tanpa lapisan keramik. Dinding dibiarkan dengan cat yang pudar mulai menghitam, di beberapa tempat pocel-pocel terkelupas lapisan semennya. Dinding bagian lain malahan hanya disambung material steel deck sampai ke atap. Atap pun tanpa plafon, tetapi terdapat bukaan di atap berbahan steel deck ini, sehingga terang matahari tetap masuk ke dalam ruangan.
Walaupun terkesan seadanya, ruangan ini cukup terang, sehingga tidak perlu lampu khusus untuk menerangi karya seniman, seperti halnya di galeri seni.

Beberapa karya lukisan Karnedi terpasang dengan rapi di sepanjang dinding maupun panel-panel di tengah ruangan. Terdapat rak berisi album foto, beberapa kursi dan rak kecil terpajang buku-buku terbitan lama yang ilustrasinya dibuat oleh Karnedi. Ilustrasinya sederhana tapi komunikatif.

ilustrasi buku

Saya tak pandai mengkurasi lukisan, tetapi ada beberapa gaya yang saya cermati ada pengaruh kubisme, bukan naturalisme. Ide, tema, maupun gaya lukisannya beragam. Ada suasana pasar, demonstrasi, 17belasan, bahkan mengangkat keseharian perempuan.
Warna-warni kanvas yang terbingkai apik memancarkan semangat senimannya menggoreskan karyanya.

foto keluarga

foto keluarga Karnedi

Istriku (My Wife), 1961

di depan salah satu karya Karnedi

Bukan Sekadar Pameran

Saya tahu info pameran dan tempat bernama Tjap Sahabat ini dari anak saya, yang profesinya beririsan dengan dunia galeri dan pameran.
Tidak mudah mengangkat nama seniman yang di mata masyarakat luas tidak terkenal. Tetapi cukup dikenang di lingkungan tetangga, teman, dan keluarganya.

Memilih puluhan karya, mengkurasi, dan memamerkan ke publik, diimbuhi dengan narasi yang ditulis oleh Wibisono Tegar Guna Putra, berjudul: Karnedi: Ingatan yang Dekat dan Diingat.

Pameran berlangsung sejak tanggal 17-30 Agustus 2026, kemudian diperpanjang hingga tanggal 6 September 2026 ini bukan hanya sekadar pameran lukisan tok. Ada kegiatan-kegiatan lain berupa aneka diskusi.

Pada hari pembukaan ada acara unik yaitu upacara bendera dari warga RW 01 Karang Anyar, Kec. Astana Anyar, Bandung. Dilengkapi dengan hiburan organ tunggal dan aneka lomba 17-an. Selanjutnya diskusi, ramah tamah, disertai sepatah dua kata kenangan dari pihak keluarga.

kegiatan Pasar Mungil

Ketika kami hadir di sana, pas ada kegiatan Pasar Mungil.
Di salah satu meja ada beberapa karya Karnedi yang dicetak sebesar kartu pos.
Cucunya yang bertindak sebagai panitia, menjelaskan, kalau saya bisa mengirim kartu pos tersebut ke rumah, karena ada perangko berilustrasi wajah Karnedi.

Tentu saja saya berminat dan membeli kartu pos lengkap dengan perangko seharga Rp29.000,-. Kartu pos tersebut telah saya terima satu minggu kemudian.

membeli postcard+perangko dan dikirim ke rumah

Bukan Sekadar Hidangan ala Kadarnya Karnedi Nataatmadja

“Kekerasan”, 1969, cat minyak, kanvas (kartu pos yang sampai ke rumah)

Penutup

Tak salah kalau pameran Karnedi Nataatmadja ini tajuknya Rekonstruksi Arsip.
Seperti penuturan kuratornya, bagaimana memilih, mengkurasi karya, foto, buku, dari rumah keluarga untuk dibawa dan dipamerkan ke ruang publik, tidak bisa sendirian.
Perlu bantuan keluarga, orang terdekat, untuk mengembalikan ingatan.

Pameran rekonstruksi arsip ini, bukan semata-mata usaha untuk menyelamatkan seorang seniman dari lupa. Ia adalah usaha untuk memperhatikan kembali bagaimana ingatan bekerja: siapa yang menyimpan, siapa yg meneruskan, apa yg tertinggal, & apa yg hilang ketika sebuah kehidupan tidak memiliki cukup banyak perangkat untuk dicatat.

Saya jadi penasaran, seniman siapa lagi nih yang akan diangkat dan dipamerkan di Tjap Sahabat Gallery & Cultural Hub. Kalau ada lagi, mau ajak ah Alienda Sophia, blogger Bandung yang kategori artikelnya banyak menulis Lifestyle Ibu.
Sekalian jajan dong ke sini…

Sumber: https://bandungbergerak.id/article/detail/1546035481/tjap-sahabat-ruang-seni-baru-di-pecinan-bandung

Tinggalkan komentar