ekonomi kreatif inggris
desain

Pengalaman Inggris dan Korea Menggerakkan Ekonomi Kreatif

Ketika Badan Ekonomi Kreatif dibentuk oleh Presiden Joko Widodo di tahun 2015 yang lalu, Indonesia memilih berqiblat ke Inggris. Sebagai perintis pengembangan ekonomi kreatif, Inggris mendefinisikan ekonomi kreatif sebagai kegiatan ekonomi yang input dan outputnya berupa gagasan dan produk kreatif. Aktivitas produk kreatif tersebut bukan hanya bentuk-bentuk seni tradisional, seperti halnya teater, musik, dan film. Tetapi berikut bisnis jasa seperti iklan, proses manufaktur dan ritel barang kreatif.

Di bidang musik, salah satu sektor yang dimasukkan pemerintah ke kategori industri kreatif, Inggris masuk daftar laporan top 10 Global Recording Artist. Ada banyak Kota Musik di Inggris, diantaranya Manchester, Bristol, Birmingkam, Cardiff, Brighton & Hove, Dundee, Bournemouth, dan Nottingham. Di kota-kota tersebut, musisi dan bisnis musik dapat berkembang karena adanya kebijakan-kebijakan yang “ramah musik”.
Inggris memang telah membuktikan bahwa industri kreatifnya mampu mengangkat perekonomian negara itu. Ada 13 subsektor industri kreatif yang bernaung di bawah Department for Culture, Media, and Sport (DCMS), kementerian yang menangani industri kreatif di Inggris. Keseriusan penanganan sektor ini merambah ke peluang lapangan kerja yang tersedia dan jalur pendidikan yang mendukung. Ada sekitar dua juta lapangan kerja yang melibatkan pekerja kreatif setempat maupun global.

Kita mengenal petualangan Batman menelusuri jalan kota Gotham dengan Batmobile. Begitu pula dengan sang jagoan James Bond dalam film 007, Harry Potter, dan Star Wars: The Last Jedi yang mendunia. Tak kurang industri video game Batman Arkham Night dari perusahaan game Rocksteady yang berbasis di London telah menyumbang keuntungan sebesar 5,11 milyar poundsterling di tahun 2017. Sektor industri kreatif di dunia musik dan fashion juga berperan mengangkat Inggris dilirik oleh aktor-aktor ekonomi kreatif di negara lain.


Di belahan bumi lain, Korea Selatan merupakan negara di Asia yang pertumbuhan ekonomi kreatifnya paling tinggi berkat K-Pop dan K-Drama. Industri kreatif Korea Selatan bukan hanya musik dan drama, tetapi juga ke sektor fashion, hingga kuliner. Kesuksesan K-Pop dan budaya Korea tak lepas dari peranan pemerintah setempat dan rakyatnya untuk terus mengekspor kebudayaan mereka. Untuk mengembangkan sektor industri kreatif, pemerintah Korea Selatan memberikan dukungan secara berkelanjutan mulai dari suntikan modal, subsidi, hingga insentif pajak. Tak kurang dari miliaran dollar disuntikkan untuk mendukung peningkatan ekspor K-pop.

Indonesia selama ini dikenal devisanya berasal dari minyak bumi dan sumber daya alam. Sumber daya alam tersebut mulai menipis ketersediaannya, sehingga kita harus mulai menggali potensi terbesar yaitu dari sumber daya manusia. Potensi tersebut antara lain pontensi berkreasi. Lima tahun terakhir ini terbukti ada peningkatan kontribusi produk domestik bruto (PDB) industri kreatif mencapai Rp. 1.105 triliun. Sektor ini pun menyerap banyak tenaga kerja hingga di atas 12 persen dari total angkatan kerja, terutama usia muda. Penyumbang utamanya berasal dari fashion, kriya, dan kuliner. Walaupun demikian prioritas juga diberikan pada sub sektor animasi dan film, aplikasi dan gim, dan musik.

Baru-baru ini pemerintah Indonesia menerbitkan Undang-undang Republik Indonesia no 24 tahun 2019 tentang Ekonomi Kreatif, yang tujuannya menjadi payung hukum bagi pelaku kreatif di Indonesia. Harapannya dengan berlakunya undang-undang tersebut ekonomi kreatif menggeliat menjadi andalan perekonomian Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *